Posted by: YaBISA | May 30, 2009

Profil Keluarga Waluyo


Dari kiri: Bu Timbrug, Pak Wilem, dan Pak Jamin

Oleh: Aris

Tumpukan kroco (bahasa jawa,batu kali) kelihatan sedikit menggunung dihalaman depan rumah. Sedikit demi sedikit bertambah setelah ditambah ember demi ember kroco yang diangkat oleh seorang perempuan tua. Perempuan itu bernama Bu Timbrug Ia dengan utun (tekun) mengumpulkan batu  di kali, perlahan diangkat, setelah melalui jalan menanjak sampailah di halaman rumah. Lalu ditumpahkannya batu kali yang ada di dalam ember. Setelah dirasa cukup banyak, ia memecah batu kali yang berukuran besar menjadi ukuran lebih kecil. Walau dalam kondisi panas terik matahari, ia terus bekerja.

Setelah hari semakin siang, matahari tepat berada di atas kepala, perempuan yang berambut pendek ini istirahat di balai-balai, dengan tenang ia minum kopi dan  makan singkong rebus. Tak lama kemudian, seorang kakek yang berambut putih menemani perempuan itu. Ia sudah mempersiapkan makan siang yang akan mereka santap berdua. Kakek itu bernama Jamin, berusia 86 tahun. Walau sudah tua, tapi badannya masih kelihatan kuat dan semangatnya begitu besar. Ia adalah veteran perang yang pernah terjun di medan laga 10 Nopember 1945. Seiring dengan perjalanan usia, kini tugas Yamin dalam keluarga memasak dan mempersiapkan kayu bakar. Acara makan siang pun semakin terasa guyub setelah kedatangan Nur Idayati, cucu mereka yang masih duduk di kelas  5 sekolah dasar.

Kehidupan yang keras di Desa Kertoasri, Kecamatan Geger Kabupaten Madiun, keluarga lansia itu tetap tabah dan tenang menghadapi hidup. “Dalam menghadapi kehidupan in, jika ada yang terasa tidak mengenakkan hati, hendaknya selalu eling (ingat) dan sabar. Kesukaran hidup hilang dan yang ada hanya hati yang riang,” ujar Yamin mengungkapkan kiat hidupnya.

Dalam keluarga itulah, teman kita Waluyo yang akrab dipanggil Walodet (seorang stakeholder kita) dibesarkan. Yamin menceritakan perjalanan masa kecil Walodet. Walodet sejak kecil memang sudah dekat dengan dunia seni, maklum saja, Yamin pada tahun 80-an dikenal sebagai pelawak pada seni pertunjukan keliling (ludruk dan ketoprak). Walodet kecil sering diajak pada saat pementasan. Selain sebagai pelawak, Yamin dan istrinya juga ada usaha sambilan ketika tidak mentas, sebagai penjual keliling jika ada pasar malam. ”Saya bersama Waluyo jualan rokok sedangkan ibunya jualan kacang dan singkong rebus,” ujar Yamin.

Pekerjaan sebagai pelawak dan pedagang keliling dijalani keluarga itu bertahun-tahun. Hingga usia mulai senja, kini keluarga tersebut memilih untuk lebih banyak tinggal di rumah dengan kondisi seadanya.

Semantara itu Waluyo yang usia semakin bertambah, memilih jalanan sebagai ladang mencari hidup. Ia menjadi pengamen di bus. Hidup di jalanan yang identik dengan gaya hidup keras ditempuhnya. ”Pada tahun 2000-an hidup dijalanan masih dapat diandalkan. Penghasilan masih bisa dirasakan. Namun kini jalanan sudah suram. Pemain baru semakin banyak sedangkan penumpang bus semakin sepi,” kata Walodet.

Dulu, ia sangat gampang mendapatkan uang Rp 50 ribu dalam sehari, kini untuk mendapatkan Rp 15 ribu saja sudah sulit. “Kami menyadari kondisi ekonomi makin sulit, orang bepergian juga dengan uang yang pas-pasan,” ungkap Walodet. Seiring suramnya kondisi jalanan, Walodet sekarang juga merasa malu untuk tetap terus di jalanan. Ia ingin bangkit dari kondisi ini tapi ia masih tetap terus bertahan dalam kondisi yang seperti ini. “Sulit meninggalkan jalanan, sudah bertahun-tahun menjadi tempat kehidupan. Walau suram, sulit untuk meninggalkannya,” ceritanya.

Sambil mengenang keemasan anak jalanan, Walodet melanjutkan ceritanya. Sewaktu masih sering ngamen dengan trayek Maospati hingga Jombang, Walodet merasa berkecukupan hidup di jalanan. Ketika uang masih banyak, ia sudah kepikiran untuk menyisihkan sebagian uangnya untuk tabungan. “Tak titipkan ke teman yang dapat dipercaya. Kalau uang saya pegang sendiri, tak perlu waktu lama untuk menghabiskannya,” begitu tuturnya. Namun kebiasaan mulai belajar menabung itu semakin memudar ketika trayek ngamennya secara alami mengalami pemendekan, cuman sekitar Madiun. Ia tidak bisa lagi mendapatkan hasil yang banyak dan menabungpun sudah jauh dari kenyataan.

Uang Rp 15 ribu cepat habis, untuk makan dan hidup di jalanan sudah tidak ada sisa. Seringkali cepat pulang ke rumah kalau memang sudah tidak ada uang lagi,” katanya. Saat di rumah, saat tidak ada uang, Walodet baru merasakan betapa hambarnya hidup, mau kemana-mana dan mau apa-apa tidak bisa.

Walau masih hidup dijalanan dan masih ada sedikit kerja obyekan, Walodet masih bisa bertahan. Dalam kondisi kembang kempis dan penuh ketidakpastian ini, Walodet mulai belajar melakukan kegiatan atau usaha mandiri.

Ia mengungkapkan obsesinya, ”Saya kepikiran nabung lagi. Selain untuk masa depan, juga untuk njagani (mempersiapkan diri) kalau kondisi lagi terpuruk. Selain itu saya juga harus bisa usaha produktif agar ada pemasukan uang.” Ia belajar menempuh tahap pertamanya, yaitu tahapan belajar sabar. Ketika mendapatkan dana bantuan dari YaBISA, sebesar Rp 300 ribu, ia memulai mewujudkan mimpinya sebagai peternak ayam. Dimulai dengan membeli empat ekor babon (ayam betina) dan seekor jago (ayam jantan). Selain itu juga memelihara merpati.

Walodet membangun kandang ayam

Kini ada hiburan tambahan bagi Yamin dan istrinya, Timbrug Selain bekerja keras, ia juga merasa ada kebahagiaan tambahan ketika memberi makan ayam-ayam Walodet (***).


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: