Posted by: YaBISA | July 18, 2009

Dialog Dengan Para Dampingan Di Caruban


Oleh: Arisdyanto

Pada tanggal 19 Juni 2009 bertempat di rumah Pak Towo dan Bu Towo  (koordinator YaBISA komunitas Caruban) berlansung sebuah dialog antara Pak Wilem dan Mas Aris dari Yayasan Bangun Insan Swadaya (YABISA) Cabang Madiun dengan para dampingan/calon dampingan Caruban. Mereka ini antara lain Pak Hudi dan ibu Hudi serta Pak Faisal Harisson. Pertemuan bermaksud melakukan dialong langsung dengan anggota dampingan untuk memantau respon mereka terhadap program pembedayaan sosial ekonomi, kesulitan yang dihadapi serta keterbukaan memecahkan kesulitan secara kolektif.

Pertemuan berawal dengan ceritera Bu Towo bahwa pada siang sebelum pertemuan ada tiga orang warga, yang tinggal di dekat rumahnya, mendatangi Bu Towo dan berkeinginan untuk bergabung dengan yayasan. Mereka adalah Rarindra, Suwartiningsih dan Eni Sulandari. Ketiganya sudah mengambil dan mengisi formulir. Suwartiningsih dan Eni Sulandari bahkan sudah mulai menabung. Hal ini mereka lakukan sebab setiap warga yang mau bergabung, diharapkan memiliki terlebih dahulu tabungan. Mereka berdua, berusaha mengikuti aturan ini dengan menabung masing-masing sebesar Rp 30.000.

Pak Towo memberitahukan, ada warga Sidodadi yang berkeinginan bergabung juga dengan yayasan. Dan Pak Towo mengharapkan tim yayasan bisa proaktif untuk berkunjung ke Sidodadi dan melihat langsung kondisi calon simpul yang ada di sana. Menanggapi harapan Pak Towo ini, Pak Wilem mengatakan usulan ini akan dibicarakan lebih lanjut nanti. Sedangkan copy formulir yang telah diisi para calon dampingan itu akan segera dipelajari.

Hari itu juga Pak Towo menyampaikan sebuah usulan dari lingkungan (kring) St. Petrus Mejayan. Kring mengusulkan bantuan dana buat sejumlah warga Menjayan untuk beternak kambing. Namun dana itu tidak disalurkan langsung kepada warga dampingan tetapi melalui kring St. Petrus. Mendengar usulan ini, Pak Wilem mengatakan bahwa kegiatan pemberdayaan sosial ekonomi perlu dilakukan sesuai dengan mekanisme kerja yayasan. Artinya, yayasan tidak menggunakan mekanisme pengantara, tetapi ingin berhubungan langsung dengan masyarakat dampingan. Dengan demikian warga dampingan bisa mendapatkan pendapingan secara langsung. Selain itu, kegiatannya juga bisa dimonitor dan dievaluasi secara langsung. Meskipun demikian, Pak Wilem menambahkan bahwa yayasan bisa bekerja sama dengan Kring St. Petrus dalam hal pemberdayaan ini.

Setelah menanggapi usulan Kring St. Petrus, pembicaraan mengarah kepada topik baru sekitar pengembalian modal usaha. Diingatkan Pak Wilem bahwa pengembalian modal usaha hendaknya dilakukan secara teratur pada setiap hari Jum’at dengan besar jumlah pengembalian disesuaikan dengan kemampuan ekonomi dan perkembangan usaha mandiri. Keteraturan pengembalian modal merupakan indikasi ketertiban, keseriusan dan kemauan kuat untuk maju dalam usaha. Bu Towo menambahkan, pengembalian itu sebetulnya bisa disiasati sehingga tidak membebankan. Misalnya, jika penghasilan per-hari sebesar Rp 10000 maka berusahalah menyisihkan seribu rupiah untuk pengembalian modal usaha. Atau kalau jualan kopi seharga seribu pergelas, dan kalau lima cangkir terjual maka yang secangkir perlu disisikan untuk pengembalian. Biar nyicil per harinya tidak terlalu berat.

Mengenai budaya menabung, Pak Wilem menegaskan supaya belajar menabung secara rutin. Bu Towo menambahkan: ”perlu  ada tertib mengangsur dan menabung seperti di koperasi”. Pak Hudi berpendapat, kalau dalam sehari, bisa menjual 5 sampai 10 porsi mie maka dia merasa aman bisa mencicil hutang. Tapi bagaimana kalo dalam sehari hanya mampu menjual 1 atau 2 porsi? ”Kan sulit ngitungnya,”. Pak Wilem menambahkan bahwa bisnis apapun memerlukan keuletan kerja serta kemampuan membaca dan memanfaatkan peluang usaha sebaik mungkin agar usah bisa maju dan sebaliknya tidak bangkrut.

Dialog itupun akhirnya menyentuh pertanyaan tentang ”bagaimana cara menilai kemajuan usaha orang yang bergerak di bidang masakan?” Pertanyaan ini dinilai penting oleh Pak Wilem mengingat cukup banyak anggota dampingan yayasan bergerak dalam usaha ini. Pak Hudi memberikan solusi atas pertanyaan ini. Cara menilainya: ya dilihat aja perbedaannya. Bagaimana kondisi keuangan sebelum dan sesudah bergabung dengan yayasan, nanti kan terlihat sendiri. Berkaitan dengan topik ini, Pak Hudi sarankan supaya ketika hendak membatu seseorang untuk usaha masakan, perlu diteliti dulu tingkat ”kesehatannya”. Artinya diteliti: apa punya hutang atau tidak? Ada tanggungan di bank titil tidak? Berdasarkan pengalamannya sendiri, kalau mengelola uang sedikit dan tanpa hutang, kemungkinan untuk bisa berkembang masih ada. Tetapi kalau punya banyak hutangnya….ya susah berkembang donk!

Pak Hudi juga tidak segan-segan menceritakan perjalanan hidupnya, mulai pada saat jaya, terpuruk dan kini merangkak lagi dari awal. Ia menuturkan, ada budaya yang tidak baik di Caruban ini. Yaitu budaya menyepelekan atau bahasa jawanya ”nggampangake” usaha kecil. Orang lebih suka langsung dengan usaha besar. Ditambah lagi kesulitan mendapatkan dana usaha. Kalaupun ada dana misalnya, yang tidak ada di Caruban ini adalah tidak ada bimbingan usaha dan mitra kerja.

Mendengar observasi Pak Hudi ini, Pak Wilem berkomentar bahwa setiap usaha memerlukan modal. Tetapi belajar mulai dengan modal dan usaha kecil dulu. Kalau sudah punya pengalaman dan keterampilan cukup dalam bisnis atau usaha maka bisa dikembangkan menjadi lebih besar. Selain modal, dibutuhkan keuletan kerja serta pendampingan demi pembentukan karakter usaha. Melihat pentingnya pendampingan ini maka kita sudah sepakati melakukan pendampingan paling kurang sebulan sekali.

Dalam dialog ini juga disosialisasikan bahwa YABISA juga peduli terhadap masalah pendidikan. Karena itu yayasan memberi kesempatan untuk melakukan tabungan pendidikan anak. Tabungan ini bisa lagsung diambil setahun dua kali untuk urusan pendidikan anak.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: