Posted by: YaBISA | July 18, 2009

Rindu Berbagi


Oleh:  Rm Hardi Aswinarno, Pr

Spiritualitas YABISA bertumbuh dari perjuangan hidup membangun bersama sebuah masa depan yang lebih baik. Ia bersemi dari sikap saling mendukung, menyemangati dan membantu terutama ketika sesama dan teman kita mengalami kesulitan, terkena musibah dan butuh bantuan.

Hal ini tentu saja bisa kita lakukan bersama mengingat semua kita adalah anggota dari satu Keluarga Besar yaitu Keluarga YABISA. Keluarga YABISA memang terdiri dari banyak anggota dengan latarbelakang suku, agama, budaya dan kebiasaan yang berbeda. Meskipun demikian, kita tetap bersatu.

Apa kiranya yang menyatukan semua kita dalam keluarga besar ini?  Kekuatan penyatu kita terletak pada “Kemauan dan Kerinduan kuat dalam diri setiap kita untuk saling berbagi”. Inilah landasan hidup keluarga kita.

Berbagi artinya saling membantu atau menolong dengan tujuan supaya setiap kita semakin Mandiri dan menjadi Manusia Swadaya.  Manusia swadaya dan mandiri adalah pribadi yang sanggup merencanakan dan mewujudkan sendiri mimpi dan masa depannya.  Pribadi yang suka belajar, ingin maju dan sanggup mengatasi persoalan hidup dengan kekuatan sendiri.

Manusia swadaya dan mandiri tidak hanya menaruh perhatian terhadap kepentingan diri sendiri, tetapi juga kepentingan sesama. Ia terbuka menjadi tanda kebaikan, penyalur berkat dan cinta kasih kepada sesama yang sedang dilanda kesulitan dan butuh bantuan.

Tentu saja hal ini sudah banyak dilakukan teman-teman kita. Bapak Rendra, Dosoryanto, Kristanto, Nugroho, Harry Setiadi, Herman Tambrin, Boedi Moeljono, James Ridwan dan ibu Serfin misanya sudah berulang kali membagi pengalaman, pengetahuan dan bahkan hasil usaha mereka kepada orang lain, teman-teman kita dan YABISA. Demikian juga bapak Johnny Hendra Azali, bapak Sabar Prasodjo, bapak Anton Soebagiyanto dan Rm Hardi Aswinarno serta para sponsor dan donator YABISA sudah banyak berbagi dengan sesama anggota kita: para pengamen, tukang becak, peternak ayam, pedangan asongan, penjual mie goreng dan minyak tanah serta penjual roti di kota Madiun dan sekitarnya.

Tidak ketinggalan, Ibu Agatha dan bapak Sumaji dari Mantingan. Sukses yang mereka capai dalam usaha roti Agatha tidak hanya dinikmati sendiri. Tetapi juga dinikmati orang lain termasuk tiga pekerja mereka yang tidak mampu secara ekonomi. Kedua mereka dan semua kita patut gembira dan bangga karena usaha yang mereka jalani tidak hanya mengangkat kehidupam ekonomi keluarga sendiri tetapi juga keluarga lain.Dan begitulah harapan kita bersama.

Allah memang bermaksud menggunakan setiap kita seperti Ia sendiri telah menggunakan nabi Musa dan Elia sebagai sarana penyalur berkat, kebaikan dan cinta kasihNya kepada mereka yang lapar, haus dan mengalami kesulitan hidup sebagaimana dialami bangsa Israel saat mengembara di pandang gurun. Bersedialah selalu menjadi tangan Allah untuk sesama (*)


Responses

  1. Tulisan yang sungguh inspiratif!

  2. bravo Romo . ruar biasa idenya persis kayak Yesus Tuhan. saya dukung buanget romo. dulu waktu th 2002 saya jdi mitra kerja pemprov jatim. impor sapi dr Australia dan bina peternak sapi sebagai plasma se provinsi jatim.

    saya nanang ex sem garum, Romo. oh ya salam juga utk pak Hariandoko.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: