Posted by: YaBISA | July 20, 2009

Berjualan Di Pasar Demi Sekolah Anak


Oleh: Patris dan Aris

Sebuah rumah kontrakan yang luasnya sekitar 4×8 meter yang terletak di Gang Masjid Jl. Sriti Kelurahan Nambangan Lor Kota Madiun nampak sunyi. Rumah itu dihuni dua keluarga yang hidup bersama dengan pembatas gedheg (ayaman bambu). Rumah yang satu menghadap ke utara.

Dalam kesehariannya sering jendela masih terbuka. Namun bagian rumah yang satunya, yang mengahadap ke selatan, ada dua jendela, dalam kesehariannya seringkali tertutup, demikian pula dengan pintunya. Di depan rumah kontrakan yang menghadap ke selatan, tepat di depannya, sebuah WC umum, dengan model jumbleng (bahasa jawa, yaitu WC tanpa bak penampungan dan tanpa atap) yang sering dipakai oleh warga yang tinggal di perkampungan itu. Sedangkan di depannya lagi, juga ada kamar mandi dan WC umum yang dipakai juga secara bersama oleh warga perkampungan. Rumah di perkampungan itu saling bersebelahan dengan berjubel secara rapat.

Di perkampungan itulah Ukik Haryono dan keluarganya tinggal. Keluarga Ukik menempati rumah kontrakan yang menghadap ke selatan. Seringkali pintunya tertutup.

Di pagi itu, Ukik ternyata ada di rumah, matanya sedang sakit akibatnya dia hanya bisa mempersiapkan makan siang untuk anaknya dan tidak bisa ngamen.

Tak berapa lama, istri Ukik, Lilik Susmiati datang dari tempat penampungan pedagang pasar. Ia membawakan suaminya, obat tetas mata. Setelah menyerahkan bahan masakan yang akan diolah Ukik, Lilik menyempatkan diri mengobati mata suaminya.

Keluarga Ukik

”Kondisi kami ya seperti ini,” ujar Lilik membuka percakapan. Lantas dia menceritakan perjuangan sebagai pembantu kios di seorang pedagang cabai dan kebutuhan dapur lainnya yang

kini menempati los penampungan pedagang yang ada di GOR Madiun. Dia tak segan bercerita, semua ini dilakukan demi masa depan kedua anaknya, Anting Wulan yang biasa dipanggil Wulan dan adiknya yang bernama Ema Puji Susanti, yang biasa dipanggil Ema.

Lanjut Lilik, dia mulai berangkat ke pasar sekitar jam 01.00 ditemani dengan Wulan, mereka membuka dagangan sendiri yaitu tahu. Tempatnya di tempat juragannya Lilik. Sekitar jam 05.00, dasaran mereka sudah usai. Lantas Wulan mempersiapkan diri untuk sekolah. Kini Wulan sudah kelas 3 di SMKN PGRI. Sedangkan Lilik bersiap untuk menjaga kios juragannya. Dia menjaga kios sampai jam 17.00. Setelah itu baru pulang ke rumah kontrakan. Ritme hidup seperti itulah yang dijalani oleh Lilik.

Mengenai kondisi pasar hari-hari ini, Lilik menceritakan, kondisi pedagang dan pembeli kini dalam was-was selalu. Pembeli masih banyak yang mencari pedagang langganannya sedangkan pedagang juga mencari pembeli yang biasa dilayani ketika pasar besar Madiun belum terbakar. Selain itu, omzet penjualan cabai juga menurun drastis. “Tidak seperti di pasar dulu. Kini lebih sepi,” ujarnya.

Kondisi ini diperparah dengan semakin banyaknya orang yang “mempertarungkan” modalnya dengan menjadi pedagang di pasar. “Sekarang banyak muncul pedagang baru. Kayaknya, orang yang punya modal langsung saja menjadi pedagang di pasar,” ungkap Lilik. Akibatnya persaingan semakin ketat, sedangkan kondisi pembeli, kemampuan membelinya jauh berkurang. Walau dalam kondisi seperti itu, Lilik dan Wulan tetap telaten untuk tetap bertahan menjadi pedagang di pasar.

Sementara itu, suami Lilik, Ukik kini lebih banyak di rumah, ia lebih banyak menjadi “ibu rumah tangga”. Mempersiapkan nasi dan lauk untuk makan siang Ema dan Wulan. “Kalau semua sudah beres atau kalau lagi senang, ya baru turun ngamen, Kalau tidak ya di rumah saja. Di jalanan pun kini sepi,” ujar Ukik.

Mengenai ritme ekonomi keluarga, Ukik menceritakan, hasil ngamennya hanya cukup untuk kebutuhan sekunder anak-anaknya, misalnya untuk uang saku ke sekolah anaknya. Selebihnya, untuk kehidupan dan jalannya keuangan keluarga, yang menjadi tiang utamanya ya dari usaha dan kerja Lilik di pasar.

Dengan kodisi seperti ini, Ukik berkeinginan untuk meneruskan kemampuannya, yaitu menjadi sopir. Ia pernah menjadi sopir mobil kanvas (mobil sales keliling) sebuah perusahaan permen di Surabaya. Berhubung juragannya bangkrut, Ukik berhenti menjadi sopir. Ia tidak bisa meneruskan kemampuannya ketika SIM A nya masa berlakunya habis pada tahun 2004 lalu. Maka tak urung ia kembali menjadi pengamen di bus dan bergumul dengan teman-teman pengamen jalanan. Pekerjaan yang digeluti sebelum bekerja menjadi sopir.

Dengan kondisi seperti ini dan masa depan anaknya, kini Ukik hanya bisa berharap semoga usaha istrinya, di penampungan pedagang pasar tidak terhambat. ”Ya di situ gantungan keluarga kami,” kata Ukik.

Mengenai pengembangan usaha perseorangan untuk peningkatan usaha, Lilik mengatakan hingga saat ini masih ada kebingungan sebab kondisi pasar juga masih belum stabil.(***)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: