Posted by: YaBISA | April 22, 2010

Membangun NTT Mandiri


Oleh: Dr. Ola Rongan Wilhelmus

Pak Wilhem Yayasan Bangun Insan SwadayaWacana “Membangun Kemandirian Masyarakat NTT” (Lokal)  kembali bergulir. Kali ini datang dari sebuah diskusi digagas  oleh Instite of Cross Timor for Common Property Resourcesitute Deveulirlopment dan Harian Pos Kupang (PK, 09/22/08). Wacana yang ditiup kali ini tentu punya nuansa lebih spesial. Sebab dikemas dalam rangka menyongsong dies natalis NTT ke 50.Kemasan ini dibuat dengan maksud memanfaatkan momentum historis ini untuk melahirkan sebuah sejarah baru. Yaitu membangun NTT dengan kearifan dan kekuatan sendiri.  Bukan kekuatan luar! 

Pertanyaanpun mecuat. Apakah gairah membangun dengan kearifan sendiri itu boleh dibaca sebagai pratanda lahirnya sebuah “kesadaran sosial baru” generasi NTT sekarang ini? Kemudian, perlukah kita harus melakukan sebuah diskurs lebih lanjut tentang membangun masyarakat mandiri?

Terbitnya Kesadaran Sosial Baru?

Istilah membangun masyarakat NTT yang mandiri mempunyai bobot tersendiri dari mata ilmu pembangunan. Sebab setidaknya hal ini bisa menjadi pratanda terbitnya sebuah “kesadaran sosial baru”, mengubah hidup dengan kekuatan sendiri.

Kesadaran ini tentu tidak datang begitu saja. Sebaliknya muncul dari pengalaman, pengetahuan, kesaksian dan kesadaran kolektif tentang sejarah pembangunan nasional.

Sejarah yang sangat royal dengan aneka program  pembangunan mahal. Tapi gagal menyulap citra propinsi ini sebagai propinsi miskin. Riuh redahnya paket-paket pembangunan nasional selama ini selalu berakir dengan pewarisan estafet kemiskinan dari generasi ke generasi. Siapa berani tolak?

Kenyataan ini mengusik kita bertanya diri. Sampai hatikah kita warisi terus kemiskinan dan kebodohan itu kepada anak dan cucu kita? Tentu tidak! Hati kita tidak tegah melihat estafet kemiskinan itu terus bergulir.

Kalau demikian maka sekarang juga saatnya kita perlu melakukan transformasi diri. Artinya membangun semangat baru,  tekad baja dan kerja lebih keras lagi dengan kekuatan sendiri.

Yang pasti, hanya orang NTT sendiri yang paling mengerti bagaimana mengubah propinsi ini menjandi sebuah propinsi yang memiliki, meminjam istilah Prof. Dr. Mubyarto, Guru Besar FE-UGM “Nasip Terpancang Terang” di depan mata.

Kemandirian Sebagai Strategi Pembangunan

Membangun masyarakat mandiri merupakan sebuah strategi pembangunan. Sebagai sebuah strategi, tentunya memiliki ciri khas, tujuan dan sasaran unik. Demikian pula proses serta indikator keberhasilan.

Mengapa unik? Strategi ini merangkul kemampuan lokal mengubah hidup dengan potensi lokal pula. Filosofinya ialah setiap orang sanggup mengubah hidup dan masyarakatnya dengan kemampuan sendiri.

Disini masyarakat tidak perlu tunggu perintah lurah, camat, gubernur atau president. Inisiatif mengorganisir diri sendiri mengatasi kesulitan air minum atau komunikasi dan hubungan jalan antara desa sesungguhnya contoh paling tepat strategi pembangunan ini.

Kelompok sasar pembangunan jelas masyarakat miskin di kota maupun desa. Mengapa mereka jatuh miskin? Drier (2002) menemukan bahwa alasan kemiskinan bukan pertama-tama terletak pada kesalahan kaum miskin itu sendiri. Malainkan  kebijaksanaan ekonomi, politik dan pembangunan yang tidak berpihak pada mereka.

Menilik persoalan itu maka, strategi pembangunan masyarakat mandiri menggarisbawahi dua tujuan pokok yaitu praktis dan strategis. Tujuan praktis lebih erat berkaitan dengan pembangunan ekonomi, pendidikan, atau kesehatan. Sementara  tujuan strategis berkorelasi dengan pemberdayaan insan manusia.

Dalam urusan pembangunan ekonomi, perhatian besar tertujuh  pada penguatan keuangan dan ekonomi melalui usaha-usaha produktif. Disini masyarakat butuh pendampingan serius demi suksenya usaha. Hidup hemat, rajin menabung dan menggunakan uang secara bijaksana tentu saja menjadi bagian penting pemberdayaaan ekonomi berkelanjutan.

Di negeri ini, Bank Indonesia telah mengucur sekian banyak  dana atas nama usaha produktif. Tapi kebanyakan gagal total karena absenya pendampingan. Akibatnya duit kabur dan rakyat kembali hidup miskin.

Tujuan strategis ialah memberi kesanggupan kepada masyarakat  agar bisa bicara dan perjuangkan sendiri hak-haknya atas kehidupan layak dan bebas dari kelaparan, kebodohan, dan  penyakit.

Pembangunan juga harus bisa menumbuhkan keberanian  mengespos ke publik berbagai isu sosial seperti korupsi, kekerasan terhadap kaum wanita dan anak, penyelewengan hukum, dan harga bahan bakar dan pokok yang terlampau melangit.

Sejarah pembangunan kita telah bicara bahwa pimpinan negara ini kurang peduli terhadap aspek pembendayaan dalam arti seperti ini. Karena lebih senang melihat rakyatnya bersikap “amin” sepanjang masa. Kalau demikian maka, lembaga swasta, LSM dan institusi keagamaan seharusnya berperan lebih aktif dalam pemberdayaan insani.

Proses membangun masyarakat mandiri

Mimpih tentang masyarakat mandiri tidak pernah datang begitu saja, malainkan diciptakan. Terbentuk karena ada usaha serius dan kerja keras.

Kisah membangun masyarakat mandiri selalu berawal dari pembentukan organisasi masyarakat lokal. Tentu saja bisa diupayakan melalui pembentukan kelompok kredit, koperasi,  lingkungan hidup, nelayan dan petani. Disini kelompok berperan sebagai wadah penyatu masyarakat kecil.

Melalui kelompok ini, masyarakat lalu dididik dan didampingi secara serius sehingga mampuh membangun kekuatan bersama demi pengembagan hidup sosial dan ekonomi ke depan.

Para elit politik dan ekonomi kita umumnya tutup mata terhadap kelompok miskin. Tetapi akan buka mata dan terbirit-birit  kalau melihat kelompok ini datang dalam jumlah besar dan bicara dengan suara lebih lantang.

Pada titik ini, Saul Alinsky (1909-1972) bekali-kali memberi penegasan bahwa mengorganisir masyarakat lokal merupakan keharusan. Sebab hanya melalui organisasi inilah mereka menemukan kekuatan kolektif untuk bicara dan perjuangkan kepentingan sendiri.

Bagaimana mengetahui bahwa sebuah masyarakat yang dibangun sudah benar-benar mandiri?

Pertama, jumlah kelompok dan organisasi masyarakat lokal semakin bertambah dan pula kuat demi pembangunan dan sekaligus pemberdayaan itu sendiri.

Kedua, masyarakat kecil semakin kritis terhadap berbagai isu sosial yang muncul di depan mata mereka.

Ketiga, memiliki keberanian menyuarakan hak-hak asasi dan kepentingan sendiri.

Keempat, kehidupan ekonomi, pendidikan dan kesehatan membaik dan semakin berperan aktip dalam kehidupan sosial kemasyarakatan.

*Penulis adalah dosen Universitas Katolik Widya Mandala serta peneliti dan pengendali yayasan Bangun Insan Swadaya di Madiun, Jawa Timur.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: