Posted by: YaBISA | April 23, 2010

Pelatihan Jurnalistik Mahasiswa Katolik Kota Madiun


Oleh: Marselina  Nango (Reporter Buletin YaBISA)

Tanggal 5-6 April 2010, bertempat di Aula STKIP Widya Yuwana Madiun, Jawa Timur berlangsung pelatihan Jurnalistik diikuti 26 mahasiswa Katolik dari berbagai kampus di kota Madiun. Pelatihan terselenggara atas kerjasama antara Perhimpunan Mahasiswa Katolik Rebublik Indonesia (PMKRI) Cabang Madiun dan Yayasan Bangun Insan Swadaya (YaBISA). Pelatihan dibuat dengan maksud memberi pemahaman dasar kepada peserta tentang jurnalisme serta bimbingan dasar menulis straight news (berita lugas/langsung), feature (berita ringan) dan opini.

Dalam sambutan pembukaan, Romo Drs. FX. Hardi Aswinarno, MA, Pr (Pastor moderator PMKRI Cabang Madiun) menekankan perlunya ketekunan dan keseriusan mengikuti pelatihan ini dan membuka diri untuk belajar sebanyak-banyaknya tentang dunia jurnalisme. Dengan ketekunan itu kita boleh berharap bahwa pelatihan ini dapat melahirkan sejumlah penulis muda Katolik dikemudian hari. Sementara itu Dr. Ola Rongan Wilhelmus (ketua YaBISA Madiun) mengharapkan supaya proses pelatihan ini nantinya dapat mengikis penyakit sosial jurnalisme dalam diri kaum muda yang melihat pekerjaan menulis sebagai sesuatu yang sulit, rumit dan berat.

Seluruh kegiatan pelatihan dipandu Bapak Ignasius Haryanto, Direktur Eksekutif Lembaga Studi Pers dan Pembangunan di Jakarta serta Roy Thaniago, penulis muda berbakat di bidang seni dan budaya. Pada pembukaan pelatihan, Haryanto menyampaikan bahwa menulis bukanlah hal yang sulit dan rumit, namun harus dilakukan secara tekun dan kontinu sehingga terbiasa dan terampil. Jurnalis yang baik perlu memiliki rasa keingintahuan yang besar, tidak mudah menyerah dan mau belajar terus.

Selama pelatihan, peserta menggumuli  dengan penuh semangat konsep dasar jurnalisme, membuat straight news, feature dan opni. Sebuah berita yang ditulis diaggap lolos dan layak masuk publikasi kalau bersifat aktual, dinilai penting, jarang terjadi, dekat dengan pembaca, tentang orang terkenal dan menyentuh rasa kemanusiaan. Kemudian, opini merupakan ungkapan pendapat dan pendirian subjektif penulis tetapi perlu didukung oleh fakta, data dan argumentasi yang bisa diterima pembaca. Demikian Haryanto menjelaskan secara meyakinkan.

Pelatihan jurnalistik berakhir dengan sesion evaluasi bersama terhadap kegiatan pelatihan, dan sebelum meninggalkan tempat pelatihan kedua pemateri berpesan supaya jangan putus asa kalau tulisan tidak dipublikasi oleh majalah atau koran tertentu. Kalau tidak dipublikasi artinya anda ditantang untuk menulis dengan lebih baik lagi. Maju terus dan pantang mundur!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: