Posted by: YaBISA | April 23, 2010

Pemberdayaan Masyarakat: Sebuah Analisis Konteks


Oleh : Dr. Ola Rongan Wilhelmus
Pak Wilhem Yayasan Bangun Insan SwadayaIsu pembedayaan bak magik. Menyihir seluruh bangsa sejagat.  Pemberdayaan tidak cuma menjadi isu penting lembaga internasional seperti UNDP, World Bank atau Asian Development Bank saat ini. Tetapi juga pemerintah kita di Jakarta. Angin pemberdayaan meniup keras hingga tiba di NTT. Pemberdayaan di propinsi ini bisa saja menjadi diskurs menarik dalam waktu lima tahun ke depan.Mengapa tidak? Gubernur Frans Lebu Raya dan wakilnya Esthon Foenay telah menempatkan pemberdayaan masyarakat dan penaggulangan  kemiskinan sebagai agenda penting pembangunan NTT (Suara Pembaharuan, 2008/07/18).Gebyarnya isu pemberdayaan itu mengusik kita bertanya: Apa sih yang membuat isu ini menjadi kian penting dan popular? Sejauh mana kita menempatkan konsep pemberdayaan dalam konteksnya yang tepat? Apa yang terjadi dengan praktek analisis pembedayaan sejauh ini?

Berkaitan Erat dengan Hak Asasi Manusia

Pemberdayaan terus memikat perhatian dunia. Sebab bekaitan erat dengan persoalan hak asasi setiap orang atas pendidikan, makanan, kesehatan dan lain-lain.

Dalam konteks hak asasi ini, UNDP menetapkan pemberdayaan sebagai satu tujuan pokok program pembagunan millenium.  Mengapa? Sebab pemberdayaan dilihat sebagai kendaraan paling efektif mengetas populasi kemiskinan dunia yang jumlahnya sudah mencapai sekitar 2.8 billion (World Bank, 2005).

Kemiskinan memang harus diberantas. Karena bertentangan dengan hak asasi manusia atas kehidupan layak, berpendidikan cukup, berkecukupan makanan, rasa aman dan sehat.

Disini, kemiskinan perlu dilihat sebagai musuh kolektif yang harus dilawan bersama. Wujud konkrit perlawanan tentunya dilakukan lewat program pemberdayaan ekonomi dan organisasi masyarakat yang serius dan efektif.

Sebelum bergulat lebih jauh dengan program pemberdayaan, kita coba diskusikan lebih dahulu konteks pemberdayaan. Kemudian menempatkan konsep pemberdayaan dalam konteksnya yang tepat.

Konteks dan Konsep

Pemberdayaan pada tempat pertama tidak bisa ditempatkan dalam konteks masyarakat kecil yang bodoh, pasif dan miskin. Sebaliknya perlu ditempatkan dalam konteks ‘apa’ yang membuat masyarakat jadi bodoh, pasif dan miskin.

Kalau pemberdayaan ditempatkan dalam konteks masyarakat bodoh dan miskin maka, konsekwensinya masyarakatlah yang selalu dipersalahkan dan dilihat sebagai akar kemiskinan.

Akibatnya kebobrokan sistem politik, ekonomi, hukum yang  sebetulnya  menjadi penyebab utama kemiskinan itu malah luput dari pengamatan, analisis dan diskurs sosial.

Kalau kemiskinan dan kebodohan berakar pada sistem sosial yang merugikan masyarkat kecil maka, analisis kemiskinan dan pemberdayaan selayaknya ditempatkan dalam kontkes yang lebih luas. Yaitu konteks sosial, ekonomi, politik dan hukum yang tidak adil, korup dan manipulatif misalnya.

Menempatkan analisis kemiskinan dalam konteks yang luas itu, Drier (2002) menegaskan bahwa akar masalah kemiskinan pertama-tama bukan terletak pada diri masyarakat miskin. Malainkan pada sistem sosial, ekonomi dan politik yang lebih berpihak kepada elit politik, birokrat dan konglomerat.

Dalam konteks ini, pemberdayaa lalu diartikan sebagai upaya memberi kesanggupan, kekuatan dan otoritas kepada masyarakat kecil melalui suatu proses pendidikan, pelatihan atau keterlibatan aktif dalam organisasi tertentu.

Proses ini diharapkan nantinya melahirkan insan yang memiliki sikap kritis, nurani bebas, berani menentang eksploitasi dan manipulasi, anti ketidakadilan sosial dan berjiwa besar menyuarakan hak-hak asasi manusia.

Realitas Praktek Analisis

Gebyar pembangunan di tanah air saat ini sarat dengan aneka program pemberdayaan. Mulai dari Program Pengembangan Kecamatan (PPK), Program Penaggulangan Kemiskinan Perkotaan (P2KP), Bantuan Tunai Langsung (BTL) dan seterusnya. Pertanyaan kita: apakah program pemberdayaan itu ditempatkan dalam konteksnya yang benar?

Analisis program pemberdayaan serta kemiskinan selama ini sering ditempatkan pada konteks yang keliru. Yaitu konteks masyarakat kecil, bodoh dan tidak mampu. Kesalahan ini mempunyai beberapa konsekwensi tragis.

Pertama, para elit politik, birokrat dan praktisi pembangunan selalu merasah diri benar dan karenaya tidak boleh dikritik. Soalnya, semua alasan kemiskinan terletak pada diri masyarakat kecil. Bukan pada sistem sosial yang diciptakan!

Kedua, mekanisme penyusunan program pemberdayaan selalu  dimonopoli pemerintah atau swasta karena rakyat dipandang bodoh. Pada hal rakyat sendiri yang paling tahu persoalan mereka sendiri serta bagaimana mengatasinya. Demikian pula halnya, kalau program pemberdayaan itu gagal maka rakyat juga yang dipersalahkan.

Ketiga, monopoli penyusunan program ini berakibat program pemberdayaan sering dibelokan kepada penigkatan kesejahteraan pemerintah atau swasta yang menggeluti program ini. Bukannya kesejahteraan rakyat. Pada hal dana pemberdayaan itu umumya dipijam atau diminta dari luar atas nama rakyat miskin.

Keempat, proses pembedayaan bukanya membuat masyarakat semakin terlibat aktip dalam actus pemberdayaan tetapi semakin pasif dan bergantung. Akibatnya output pemberdayaaan jadinya begitu kontras dengan tujuan akhir dari pemberdayaan yang mau dicapai.

Kalau program pemberdayaan lebih merespons kepentingan pemerintah, swasta dan praktisi pembangunan maka program itu tidak pernah akan membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Bagaimana ke Depan?

Melihat output program pemberdayaan itu maka framework kajian dan diskurs tentang pemberdayaan dan kemiskinan ke depan perlu ditempatkan dalam kontenks yang lebih luas tadi.

Dalam konteks itu, kita akhirnya bisa mengekspos kelemahan atau kekuarang sistem sosial, ekonomi, politik, hukum dan kebudayaan yang merupakan akar dari kemiskinan selama ini.

Setelah merumuskan kelemahan sistem sosial itu baru kita bisa bicara lebih objektif tentang bagaimana caranya mengubah dan memperbaiki sistem itu ke depan.

Selain itu, program pemberdayaan hendaknya menepatkan rakyat sebagai pemilik dan pelaku aktif pembedayaan. Rakyat dilihat sebagai pribadi unik yang memiliki segudang pengetahuan dan pengalaman hidup sendiri yang bisa ia pakai untuk membangun dan mengubah hidupnya.

Pada titik ini, Blackburn dalam “Understanding of Paolo Freire” (2000) mengatakan setiap program pembangunan perlu dilandasi dengan sikap dan pandangan positif terhadap manusia sebagai pribadi individual, rational dan sosial.

Sebagai pribadi individual, setiap orang memiliki kemapuan mencipta dan berproduksi untuk keperluan hidupnya. Sebagai makluk berakal budi, ia sanggup berpikir dan bertindak merespons persoalan hidup yang ia hadapi. Dan sebagai makluk sosial, setiap orang sanggup membangun relasi sosial dan bekerja sama dengan orang lain mengatasi persoalan dan kebutuhan hidup bersama.

Pandangan seperti ini pada gilirannya akan membantu agen pembangunan merencanakan, menyusun, dan melaksanakan suatu program pemberdayaan secara lebih merakyat, membumi dan partisipatif.

TULISAN INI TELAH DIMUAT DALAM OPINI HARIAN POS KUPANG (HARIAN NTT),  26/11/2008


Responses

  1. Perubahan pada sistem menurut saya tidak akan menyelesaikan masalah. Karena masyarakat kita ini sangat beragam. Jadi, pendekatan bottom-uplah yang lebih cocok. Lihat, bagaimana reformasi yang gagal karena sudah buru-buru diteriakkan sebelum punya pondasi yang kokoh di akar rumput. Dampaknya, sekarang masih ada tuh rakyat yang lebih seneng Orba.

    Perubahan harus dilakukan secara bertahap dan tidak langsung dalam konteks nasional. Biarkanlah saja dulu gelora perubahan itu menggeliat di berbagai pelosok Indonesia. Hingga mereka telah merasa kokoh dan siap bermusyawarah untuk merumuskan perubahan menyeluruh.

    Tapi, untuk poin pemberdayaan masyarakat yang berorientasi pada kepemilikan dan keaktifan rakyat itu saya sangat setuju sekali.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: